Sekitar Kita
Ada yang baru di Alun-Alun Bandung. Area terbuka yang selama beberapa tahun belakangan ini ditutup beberapa bulan lalu dibuka. Kini area tersebut tampak betul-betul bersatu dengan Masjid Raya Bandung. Sebelum renovasi masjid, antara Alun-Alun dan masjid terpisah oleh Jalan Alun-Alun Barat. Taman Alun-alun pun kembali dikunjungi seperti tahun-tahun lalu. Di antara keramaian pusat perbelanjaan, adanya ruang terbuka sedikit membawa angin segar. Setiap sore hingga malam ini taman ini ramai dikunjungi masyarakat. Maka aktivitas juru foto pun kembali berlanjut. Ternyata masih banyak anggota masyarakat yang ingin mengabadikan diri, difoto di Alun.
Satu hal yang menarik, dari taman ini tampak jelas menara kembar Masjid Raya Bandung. Menara itu sangat tinggi dan kokoh. Rupanya hanya di taman itu, kita bisa mengamati menara itu secara jelas. Dari lokasi lain, menara itu nyaris tak terlihat, karena di sekelilingnya sudah berdiri gedung-gedung bertingkat.
Saya memuji kehebatan arsitek yang merancang menara beserta masjidnya. Terbayang juga biaya yang digunakan untuk membangun menara kembar itu. Pastilah biayanya milyaran rupiah. Cukup lama saya mengamati menara itu. Tak henti-hentinya pula saya berdecak kagum. Saya berpikir menara yang megah, merupakan simbol sejahteranya ummat Islam dan kedekatan ummat Islam dengan Sang Pencipta.
Tetapi kekaguman itu tiba-tiba terhenti, tatkala melihat gelandangan dan pengemis berkeliaran di seputar masjid dan taman. Seorang di antaranya duduk melamun sembari menundukan kepala. Matanya kosong, tanpa gairah hidup. Seketika bayangan keindahan dan kemegahan Masjid Raya pun sirna. Ternyata begitu banyak saudara-saudara kita yang hidup dalam kubangan kemiskinan. Sementara sebagian dari kita berlomba-lomba membangun tempat ibadah yang begitu megah. Maka kepala saya pun berhitung. Seandainya biaya pembangunan dua menara itu digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan ummat, pastilah ratusan dan mungkin ribuan saudara-saudara kita bisa terbebas dari belenggu kemiskinan.
Fenomena membangun masjid mewah tampaknya menjadi tren. Beberapa waktu lalu Pemda berniat membangun masjid di kompleks Gedung Sate. Padahal tidak jauh dari Gedung Sate sudah ada dua masjid besar, yakni Pusdai dan Istiqamah. Rencana pembangunan yang banyak ditentang itu akhirnya dibatalkan. Semoga dana yang tadinya dimaksudkan membangun masjid itu bisa digunakan untuk membebaskan ummat dari kemiskinan.
Saya jadi teringat masjid di tempat tinggal saya. Bulan Ramadhan lalu, masjid tersebut menyelesaikan pembangunan menara. Bangunan menara lumayan tinggi, berarsitektur Timur Tengah. Bila malam menara itu disinari lampu warna-warni. Selesainya menara itu, ternyata menjadi perbincangan warga. Bukan karena gaya arsitekturnya tidak sinkron dengan arsitektur masjid yang bergaya tropis kontemporer, tetapi biaya pembangunannya yang mencapai hampir Rp 70 juta. Jumlah yang sangat besar untuk sebuah kompleks perumahan sederhana. Padahal pencananya, pihak DKM membangun dua menara, jadi setidaknya butuh Rp 140 juta untuk kedua menara itu.
Sebenarnya, banyak warga tidak setuju ketika pihak DKM melontarkan rencana pembangunan menara itu. Warga menganggap pembangunan menara tidak mendesak. “Sebaiknya dana yang ada digunakan untuk hal lain saja,” usul warga. Apalagi mengingat, di sekitar masjid dan kompleks perumahan masih banyak warga yang miskin, kabarnya juga ada anak putus sekolah karena ketiadaan biaya. Namun pihak DKM bersikukuh membangun menara itu. Lucunya, DKM tidak memberikan alasan yang jelas. “Pokoknya penting,” kata ketuanya. Ketika didesak sepenting apa? Sang Ketua menolak memberi alasan. “Diterangkan juga warga tidak akan mengerti. Ilmu para warga belum sampai untuk bisa memahami,” katanya. Walau kesal warga akhirnya mengalah saja. Mungkin warga takut dituduh murtad atau pengikut “aliran sesat” sehingga memilih sikap diam.
Pendidikan bagi Ummat
Salah satu sebab mengapa ummat Islam tertinggal, adalah tingkat pendidikan sebagian besar ummat Islam masih rendah. Oleh karena itu, saya berkeyakinan jika ummat Islam mau maju maka kualitas dan kesempatan pendidikan ummat harus ditingkatkan. Pendidikan seharusnya menjadi perhatian utama para pemimpin ummat, khususnya dan ummat Islam pada umumnya. Pendidikan bisa melalui jalur formal seperti sekolah atau pesantren, ataupun informal lewat kursus, pelatihan ataupun pusat kegiatan belajar. Masjid seyogyanya menjadi agen pembelajaran. Namun sayang, masjid-masjid megah yang saya pernah kunjungi ternyata banyak yang tidak memiliki perpustakaan untuk ummat menambah pengetahuan dan wawasan. Padahal membangun perpustakaan tidak sebesar membangun menara, sebaliknya manfaatnya bisa langsung dirasakan ummat.
Seingat saya, saat ini belum ada perpustakaan buku-buku Islam di Bandung yang megah. Andai saja sebagian biaya pembangunan menara Masjid Raya Bandung atau masjid di lingkungan kediaman saya digunakan untuk membuat perpustakaan misalnya, atau membantu biaya pendidikan anak-anak miskin, pastilah manfaatnya bisa segera dirasakan ummat.


Tinggalkan Balasan