Di Antara Kita
Berdesakan di Atas Bis Damri Dipati Ukur-Jatinangor
Walaupun kampus Universitas Padjadjaran (Unpad) sudah lebih dari sepuluh tahun menempati kampus barunya di Jatinangor, Kabupaten Sumedang tetapi kegiatan perkuliahan di kampus lama, yakni di Jl. Dipati Ukur 45 Bandung masih terus berlangsung. Akibatnya banyak mahasiswa yang harus bolak-balik Bandung-Jatinangor tiap hari.
Ayu adalah contohnya, mahasiswa Fakultas Sastra ini dua kali seminggu setidaknya harus bolak-balik Jatinangor-Bandung. Ia mengatakan ada dosen tertentu yang males mengajar di Jatinangor dengan alasan jauh dan sering macet. Akibatnya, ia dan teman-temannya harus bolak-balik ke Bandung. ”Habis gimana lagi?” katanya pasrah. Mahasiswi asal Jakarta ini kost di kawasan Jatinangor dengan pertimbangan agar lebih dekat ke kampus tapi kenyataannya ia harus bolak-balik ke Bandung.
Masalahnya bukan karena cape atau perlu ongkos tambahan untuk bolak-balik Jatinangor-Bandung. Seperti Ayu, ia hepi-hepi saja. Hal yang sering menganggu pikirannya adalah kondisi Bis Damri yang biasa mereka tumpangi. Kondisinya ibarat rongsokan berjalan. Jumlahnya pun sangat terbatas, sehingga tidak jarang mereka harus berdiri sepanjang perjalanan karena bangku sudah penuh. Selain melayani mahasiswa Bis Damri itu juga melayani masyarakat umum.
Mereka pantas risau memikirkan keselamatannya. Pasalnya bis tersebut harus melalui jalan tol. ”Klo remnya blong gimana?” tanya Ayu cemas. Memang kondisi bis shuttle Jatinangor-Dipati Ukur-Jatinangor sangat memprihatinkan. Bila dibandingkan bis Damri jurusan lain, trayek Dipati Ukur Jatinangor paling jelek. Bandingkan misalnya dengan Bis Damri jurusan Jatinangor-Elang, rata-rata kondisinya mulus dan jumlahnya pun lebih banyak.
Perbedaan kondisi itu cukup mengherankan, padahal tarif yang dikenakan sama, yakni Rp 3.000. ”Tapi mengapa bis Jatinangor-Dipati Ukur amburadul gitu?” tanya seorang mahasiswa Fikom Unpad tak habis mengerti.
Para mahasiswa itu berharap, kondisi tersebut harus menjadi perhatian pengelola Unpad Seharusnya Unpad menegur pengelola bis Damri agar meremajakan armadanya. Sebab kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap mahasiswanya, Unpad pun pasti akan dimintai tanggungjawabnya juga.
Lagi pula, buat apa Unpad membangun kampus megah di Jatinangor apabila perkuliahan maupun kegiatan lainnya masih dilakukan di kampus lamanya di Jl. Dipati Ukur. Barangkali perlu ada ketegasan dari pihak universitas agar kampus Unpad Jatinangor hidup dan semarak sebagaimana layaknya kampus perguruan tinggi umumnya.

Tinggalkan Balasan