Motor Bebek yang Berganti Kelamin

Sepeda motor kini menjadi raja jalanan. Dari sekian puluh ribu sepeda motor, motor jenis bebek lah paling populer. Tua-muda, pria-wanita sama-sama menggemari motor bebek. Padahal ketika pertama kali motor bebek muncul, banyak orang terutama kaum pria segan mengendarai motor bebek. Mengapa?
Awalnya, motor bebek identik dengan perempuan. Itulah sebabnya kaum pria biasanya menghindari motor bebek dan memilih motor ”pria” yang ada tangki bensin di antara jok dan stang. Memang pada awalnya pencipta motor bebek mendesain motor tersebut untuk kaum perempuan. Misalnya, tidak ada tangki bensin antara stang dan jok. Sebagai gantinya ruang kosong mirip leher bebek. Desain seperti ini dimaksudkan agar perempuan yang umumnya menggunakan rok mudah menaikinya.
Sementara, ”sayap” di bagian depan, dimaksudkan untuk menjaga kehormatan kaum perempuan, karena posisi kaki yang harus sedikit mengangkang ketika menjalankan motor. Jarak dari tanah pun terbilang rendah. Tujuannya tidak lain, perempuan yang biasanya lebih pendek dari pria, mudah menaikinya tanpa bantuan orang lain.
Perempuan pada waktu itu dipersepsikan sebagai ibu rumah tangga yang hanya memerlukan alat transportasi jarak dekat. Oleh karena itu, motor bebek tidak perlu ber CC besar, cukup 50 s.d 60 CC saja. Waktu itu motor pria paling sedikit 100 CC. Kecepatan maksimal yang bisa dilakukan motor bebek pun hanya sekitar 50-60 km/jam. Dan karena ibu rumah tangga biasanya males dengan segala hal yang rumit, maka kopling dihilangkan dan jumlah gigi pun hanya tiga.
Dalam perkembangannya, kaum pria pun kemudian tertarik menggunakan motor bebek. Mungkin karena harganya yang lebih murah, kaum pria terpaksa meninggalkan rasa malunya dan ikutan naik motor bebek. Kemudian karena semakin banyak pria yang menggunakan motor bebek, maka timbul kebutuhan akan motor bebek yang macho.
Saat ini, hampir semua motor bebek sudah berubah ”kelamin” menjadi pria. Karakternya tak beda dengan motor pria. Coba saja lihat dari CC-nya! Rata-rata di atas 100 CC. Kecepatan maksimalnya bisa mencapai 150 km per jam. Ukurannya pun bertambah bongsor dan berat. Sayap bagian depan yang dimaksudkan sebagai pelindung kehormatan perempuan, oleh kaum pria kemudian dicabut. Desainnya pun mengesankan motor balap seperti yang digunakan pembalap di sirkuit. Dengan kesegala citra kejantanan itu, motor bebek pun semakin jauh dari perempuan.
Belakangan situasi ini dibaca oleh produsen motor Yamaha. Di era emansipasi dan kemajuan kaum perempuan, maka perempuan pun berhak memiliki kendaraannya sendiri. Begitu barangkali temuan produsen motor. Paham dengan psikologi perempuan, maka diciptakan sepeda motor yang mudah digunakan. Maka bermunculan lah motor skubek Skuter Bebek atau Skumatik alias skuter otomatik. Genre baru motor ini pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh Kymco, produsen motor asal Korea.
Awalnya orang ragu dengan motor jenis otomatik ini, tapi tak lama kemudian menjadi terbiasa. Sukses Kymco diikuti oleh Yamaha lewat ”Mio”. Dalam iklannya, terang-terangkan Yamana menyatakan Mio motornya perempuan dengan memasang Tessa Kaunan dan Bunga Citra Lestari sebagai model iklannya. Desain Mio yang ramping serta iklan yang gencar, membuat penjualan Mio laris luar biasa. Di mana-mana orang demam Mio. Setelah sekian lama dianaktirikan, kini perempuan kembali memiliki kendaraan sendiri.
Sukses Mio lalu diikuti oleh Honda dengan Vario dan Suzuki dengan Spin. Mungkin karena desain kedua motor terakhir ini masih terkesan macho, penjualannya tidak sesukses Mio. Lalu, akan kah Mio tetap menjadi motornya perempuan? Atau kembali akan direbut oleh pria? Kita lihat saja.

Cowok Kok Naek Bebek. Banci Banget Tuh.
He..he.. sejatinya emang motor bebek untuk cewek. Tp dlm perkembangannya jd motor cowok juga. Saya jd inget Bapak saya dulu sekali. Beliau ga mau pake motor bebek. Alasannya, takut diledeking bencong sama temen-temennya. Tp belakangan akhirnya mau juga naek motor bebek, setelah temen-temennya naek motor bebek juga. Salam dan trims udah dtng ke blog ini.