Kurang Greget: Kemilau Nusantara 2007
Meski tidak ada yang baru, penyelenggaraan puncak acara tahunan “Kemilau Nusantara” berjalan lancar. Minggu pagi, 25 November 2007, berbaur dengan pedagang dan pengunjung “pasar kaget” Gasibu, rombongan kesenian yang mewakili kabupaten di Jawa Barat dan perwakilan propinsi lain itu mendapat sambutan meriah dari masyarakat.
Acaranya sendiri sebenarnya berlangsung dua hari yakni tanggal 24 dan 25 November 2007, tetapi puncak acaranya oleh panitia diklaim berlangsung pada hari Minggu. Namun sangat disayangkan sekali, waktu dua hari itu tidak dimanfaatkan betul oleh panitia. Ini terbukti setelah acara pembukaan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, I Budhyana pada pukul 10.00, lokasi pameran dan panggung kesenian yang digelar di lapang Gasibu langsung sepi. Panitia sendiri tidak memiliki agenda khusus untuk mengisi acara di hari Sabtu itu.
Begitu pun pada hari kedua. Selesai acara helaran sekitar pukul 12.00 acara langsung vakum. Meski ada penampilan berbagai kesenian di panggung, tetapi kurang mendapat respon dari sebagian besar penonton. Posisi panggung yang terlalu tinggi, diduga menjadi penyebab minimnya perhatian penonton. ”Mengapa harus di panggung, kan kalau tampilnya di antara penonton lebih baik. Ada komunikasi dengan penonton gitu,” ujar seorang seorang penonton.
Pengunjung lain mengeluhkan kentalnya sikap feodal dari penyelenggara. ”Acara ini bukan untuk masyarakat, tapi untuk pejabat,” ujar seorang peserta lomba foto. ”Buktinya peserta baru tampil maksimal ketika melewati panggung kehormatan,” tambahnya kesal. Hal tersebut disetujui rekannya sesama fotografer. ”Lain kali engga perlu ada panggung kehormatan. Kalau pejabat itu mau nonton berbaur aja dengan masyarakat,” ujar mereka.
Memang ada dua acara lain yang diselenggarakan pada hari pertama Kemilau Nusantara, yakni diskusi dengan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, serta Seminar mengenai peranan perusahaan penerbangan dalam pariwisata. Namun, tempatnya terpisah jauh yakni di Saung Angklung Udjo. Tentu saja acara seperti itu tidak bisa bebas diikuti oleh masyarakat melainkan hanya segelintir undangan saja.
![]()
Tidak maksimalnya kegiatan Kemilau Nusantara patut disesalkan. Sejatinya event itu juga merupakan awal dicanangkannya kembali kampanye Sadar Wisata dan Visit Indonesia Year 2008. Padahal suksesnya Visit Indonesia Year 2008 bergantung kepada partisipasi masyarakat. Jadi apabila masyarakat sudah sejak awal dipinggirkan, kesuksesan Visit Indonesia Year 2008 di Jawa Barat patut disangsikan.


Tinggalkan Balasan