Remaja: Disandera Rokok?

Ini anak sma merokok.

Pagi itu seharusnya sejuk, sebab malamnya turun hujan. Saat itu jam baru menunjukkan  pukul 05.20. Embun masih menyelimuti kawasan Rancaekek dan sekitarnya. Di pagi yang dingin itu, orang sudah ramai memenuhi peron Stasiun Rancaekek. Umumnya mereka karyawan dan pelajar/mahasiswa yang akan menuju ke Bandung.

Udara yang dingin tampaknya dinikmati betul oleh para calon penumpang. Maklum setelah beberapa bulan kemarau, hujan yang terjadi beberapa minggu terakhir telah mengubah bumi yang panas menjadi terasa sejuk menyegarkan. 

Sayangnya, kesejukan dan kedamaian pagi itu terganggu oleh asap rokok. Sekelompok remaja yang mengenakan seragam putih abu membentuk kelompok-kelompok kecil dan bersama-sama merokok.  Asap rokoknya bertebaran ke mana-mana. Beberapa ibu dan remaja perempuan tampak menghindari kelompok perokok itu.  Seperti kebanyakan kaum perempuan mereka membenci  asap rokok apalagi di pagi yang seharusnya bisa dinikmati kesejukannya itu. 

Di dalam kereta yang menuju Bandung, gerombolan remaja perokok itu bukanya mematikan rokoknya, sebaliknya tindakan mereka semakin menjadi-jadi. Batang demi batang rokok dibakar, diisap dan asapnya memenuhi gerbong. Saya perhatikan, ternyata yang masih merokok di dalam kereta hanya mereka: pelajar SMA! Penumpang lain cukup tahu diri, mematikan rokok sebelum naik kereta. 

Saya pernah membaca sebuah artikel di Harian Kompas, bahwa remaja (pria) Indonesia disandera oleh rokok. Melihat bagaimana para pelajar itu merokok bak cerobong asap, rasanya pendapat itu banyak benarnya. Kita tidak akan bicara dari segi kesehatan. Rasanya semua orang tahu apa akibat merokok, apalagi sejak usia remaja sudah terbiasa merokok.

Hal yang menarik perhatian saya justru perilaku para perokok yang tidak peduli terhadap lingkungannya. Contohnya para pelajar itu, mereka dengan santai dan tanpa rasa bersalah merokok di dalam kereta. Melihat pelajar itu merokok memang sangat memprihatinkan. Dalam pengamatan saya selama setengah jam perjalanan kereta, tampak jelas mereka sudah kecanduan. Tatkala rokok sudah habis, mereka gelisah, baru tenang setelah teman yang lain memasok beberapa batang rokok baru. Jadi bisa ditebak bagaimana konsentrasi mereka ketika mengikuti pelajaran di kelas, pastilah buyar dan hanya sedikit pelajaran yang mereka bisa diserap. 

Selain para pelajar, kegiatan merokok juga telah menjadi kebiasaan orang-orang miskin. Bahkan di kalangan miskinkegiatan merokok terlihat sangat luar biasa. Ini bisa dilihat dari dua kereta rel diesel (KRD) yang biasa saya naiki. Di Bandung ada dua jenis kereta komuter, yakni KRD Patas yang bertarif Rp 5.000 dan KRD Ekonomi yang tarifnya Rp 1.000. Konsumen kedua kereta itu (meski tidak tepat benar) menunjukan dari kalangan ekonomi mana mereka berasal. 

Pengamatan saya, di KRD Patas aktivitas merokok terbilang jarang, paling hanya ditemui di gerbong paling belakang (secara sukarela, mereka yang tidak bisa berhenti merokok naik gerbong paling belakang). Sebaliknya di KRD Ekonomi kegiatan merokok sangat mencolok. Nyaris semua penumpang pria melewatkan perjalanannya sambil merokok! Padahal sebagaimana kereta kelas ekonomi di mana pun, penumpangnya berjejal-jejal. Begitu banyaknya orang yang merokok, suasana gerbong terasa perih dan ”berkabut”. Keadaan bertambah parah tatkala hujan, otomatis pintu dan jendela ditutup. Akibatnya bisa ditebak, betapa sumpeknya suasana di dalam gerbong. 

Sebetulnya kota Bandung memiliki perda ketertiban umum, yang di antaranya larangan merokok di tempat-tempat umum. Sayangnya perda ini hanya jadi macan kertas. Hingga kini belum terdengar ada perokok yang didenda karena merokok di tempat umum. Penyebab tidak berfungsinya perda ini diduga bukan karena aparat yang mengawasinya kurang, tetapi karena umumnya aparat Pemkot, termasuk Satpol PP-nya adalah perokok berat.          

~ oleh mmyeddy di/pada November 29, 2007.

Tinggalkan Balasan