Kereta Rakyat Bandung-Cicalengka

 KRD 2KRD Patas

Meski kantor pusat PT. Kereta Api Indonesia (PT. KAI) ada di Bandung, tetapi soal perkeretapian Bandung sangat ketinggalan. Contohnya kereta commuter Bandung-Cicalengka-Bandung dan Cicalengka-Bandung-Padalarang hingga kini keadaannya sangat memprihatinkan. Kedua kereta itu, terutama KRD ekonomi Cicalengka-Bandung-Padalarang penuh sesak penumpang, terutama pada jam-jam sibuk pagi dan sore hari. 

Situasi di dalam kereta terasa kurang manusiawi. Selain disesaki penumpang, pedagang asongan, pengamen dan pengemis meramaikan perjalanan. Di tengah suasana yang hiruk pikuk itu, banyak penumpang yang merokok sehingga asapnya memenuhi gerbong. Tidak jarang pula di tengah suasana itu pencopet beraksi. Sudah tidak terhitung korban pencopetan di dalam kereta. 

Situasi di kereta Patas relatif lebih baik. Dalam arti situasinya tidak sepadat KRD Ekonomi. Di sini walaupun tidak kebagian tempat duduk, penumpang setidaknya bisa berdiri dengan tenang. Pedagang, pengamen maupun pengemis tidak sebanyak di kereta kelas ekonomi tadi. Setiap hari PT. KAI menyediakan tidak kurang delapan perjalanan KRD dan lima perjalanan KRD Patas. Bagi mereka yang tinggal di luar Bandung khususnya di Cicalengka, Rancaekek (kawasan timur) maupun Padalaran (kawasan barat) naik kereta merupakan pilihan terbaik. Betapa tidak, cukup dengan Rp 1.000 kita bisa bepergian ke Cicalengka atau Padalarang dari Bandung. Padahal bila naik angkot setidaknya perlu biaya antara Rp 10.000 s.d Rp 15.000. Waktu tempuhnya pun relatif cepat karena bebas macet. 

Entahlah mungkin karena ini kereta kelas ekonomi, maka ketepatan waktu keberangkatan kurang dipedulikan oleh PT. KAI. Tingkat keterlambatannya sudah sangat memprihatinkan, mulai dari 10 menit sampai dengan 2 jam. Akibatnya, banyak calon penumpang yang terlambat tiba di tempat aktivitasnya.  Banyak penumpang mempertanyakan mengapa keterlambatan ini tidak kunjung terpecahkan oleh PT. KAI. ”PT. KAI kan sudah puluhan tahun mengelola perkeretapian, tetapi mengatur waktu aja ga becus?” cetus seorang penumpang yang  kesal. Waktu itu, KRD Patas jurusan Bandung, yang seharusnya berangkat dari Rancaekek pukul 07.30 tetapi hingga puku 08.15 belum datang juga. Calon penumpang bertambah kesal karena tidak ada penjelasan dari pihak Stasiun Rancaekek.  

Pada suatu perbincangan dengan sesama penumpang KRD, ternyata banyak harapan disandarkan kepada PT. KAI. Mulai dari penambahan jadwal, perbaikan fasilitas (seperti kereta ber-AC), percepatan waktu tempuh, hingga masalah keamanan. Namun demikian, secara umum mereka tidak terlalu mempermasalahkan kondisi kereta, hal yang paling menjadi perhatian adalah soal on time performance  atau ketepatan waktu yang sangat minim. ”Saya ’ga perlu kereta ber-AC yang penting bisa berangkat dan tiba tepat waktu,” katanya. Ia mengaku, sebagai karyawan ia sering ditegor atasannya karena terlambat tiba di kantor. 

Mulai bulan Oktober lalu, PT. KAI menaikan tarif KRD Patas dari Rp 4.000 menjadi Rp 5.000. Rencananya tanggal 1 Januari 2008 tarifnya akan naik lagi menjadi Rp 6.000. Sedangkan tarif KRD Ekonomi masih tetap, yakni Rp 1.000. Merespon masukan penumpang, sebagian gerbong KRD Patas direnovasi (dicat), tetapi bila malam masih banyak gerbong yang gelap gulita. Masyarakat berharap, kenaikan tarif tersebut diimbangi dengan perbaikan layanan, utamanya ketepatan waktu keberangkatan. 

~ oleh mmyeddy di/pada November 5, 2007.

Satu Tanggapan to “Kereta Rakyat Bandung-Cicalengka”

  1. saya pengguna KA selama 3 tahun sekolah di SMKN 6 Kota Bandung, rumah saya di daerah Rancaekek, saya pernah segerbong desek-desekan dengan hampir seluruh jenis hewan peliharaan (tentunya yang bisa masuk gerbong KRD) – beneran! saya pernah naek kereta segerbong bareng anak kebo! pernah segerbong bareng mayat korban tertabrak kereta! KRD is the best ever

Tinggalkan Balasan